www.pesona-getar.com
Register | 

PENINGKATAN KOORDINASI PROMOSI EKSPOR, PARIWISATA, DAN INVESTASI DALAM RANGKA KEPENTINGAN NASIONAL
Penulis : www.pesona-getar.com
Kategori: OPINI PUBLIK - Dibaca: 496 kali


Oleh Ir. Diah Maulida, MA
(mantan Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional)

Sebagai lembaga pemerintah yang bertugas mengembangkan ekspor, Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Depperindag dalam melaksanakan peran dan fungsinya selalu berupaya meningkatkan koordinasi dengan lembaga terkait di dalam maupun di luar negeri, serta dengan berbagai unit usaha yang berorientasi ekspor. Masalah koordinasi dirasa lebih krusial antara lain karena kebijakan otonomi daerah belakangan ini berdampak menurunkan tali koordinasi antara pusat dengan derah, apalagi antar-lembaga pemerintah di tingkat pusat pun punya kecenderungan serupa.

Dalam upaya memacu pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia, BPEN mengemban tugas pokok mengkoordinasikan, membina, dan melaksanakan pengembangan ekspor nasional berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menperindag dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya BPEN mempunyai fungsi melakukan perumusan kebijakan bidang pengembangan ekspor nasional, koordinasi dan pelayanan informasi pasar dan pelatihan ekspor, koordinasi dan pelaksanaan promosi ekspor, koordinasi dan pembinaan pengembangan produk ekspor, koordinasi dan pembinaan pengembangan wilayah pasar, penyusunan program dan laporan, di samping pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan dan administrasi umum.

Terdapat tiga institusi/unit pendukung operasional yang berperan dalam melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan pengembangan ekspor, yaitu (a) Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) yang tugas pokoknya melaksanakan pelatihan, pendidikan, kerjasama dalam pendidikan dan pelatihan, dan konsultasi ekspor; (b) Pusat Informasi Perdagangan Indonesia atau Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Osaka-Jepang, Los Angeles-USA, Dubai-UAE, dan Budapest-Hongaria, yang kegiatan utamanya menyebarluaskan informasi potensi produk ekspor Indonesia pada importir luar negeri, di samping menyebarluaskan peluang-peluang yang ada di pasar luar negeri kepada produsen dan eksportir dalam negeri, secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan promosi perdagangan, missi dagang, dll., penyuluhan dalam kegiatan 'business matching', memonitor berbagai peluang yang terdapat dalam kebijakan-kebijakan berskala makro maupun mikro yang berhubungan dengan potensi Indonesia; (c) Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (P3ED) yang mempunyai tugas utama mengembangkan ekspor daerah melalui promosi ekspor, pemberdayaan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam setempat secara profesional dan mandiri. Di tahun 2003 telah didirikan P3ED di Surabaya, Medan, dan Makassar.

Pembangunan Industri dan Perdagangan
Acuan kebijakan dan strategi BPEN adalah Propenas dan Repeta. Sedangkan kebijakan teknis operasionalnya difokuskan pada upaya-upaya sebagai berikut: 1) Memelihara pasar tradisional dan meningkatkan penerobosan pasar nontradisional untuk mempertahankan dan memperluas pasar ekspor dengan promosi dagang yang proaktif melalui solo exhibition, partisipasi pada pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri, pengiriman missi dagang, pariwisata dan investasi, memperbanyak penyelenggaraan pameran dalam negeri yang bersifat internasional, serta memasyarakatkan pemanfaatan virtual trade exhibition; 2) Meningkatkan daya saing produk ekspor dengan mengembangkan kualitas dan disain yang mengarah pada peningkatan brand image produk Indonesia; 3) Mempertajam dan mengembangkan pengamatan pasar dalam rangka optimalisasi penerobosan pasar melalui analisis dan kajian pasar, monitoring perubahan kapasitas permintaan dan selera pasar; 4) Mengembangkan sistem dan jaringan informasi ekspor untuk mempercepat arus informasi kepada dunia usaha di dalam negeri sampai ke tingkat kabupaten/kota serta di luar negeri dengan mengintegrasikan database/homepage, penerbitan dan penyebaran publikasi, data statistik, perpustakaan ekspor, diseminasi informasi, seminar dan workshop; 5) Meningkatkan jumlah, aktivitas, dan peranan kantor ITPC yang berfungsi menyelenggarakan market intelligence, promosi ekspor, diseminasi informasi pasar kepada dunia usaha, meningkatkan hubungan dagang, mempertemukan pembeli dengan eksportir Indonesia, meningkatkan kontak bisnis yang pada gilirannya meningkatkan peranan Indonesia dalam peta ekspor dunia; 6) Meningkatakan kerjasama dengan pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota yang dituangkan dalam bentuk kesepakatan kerjasama dalam menggali dan meningkatkan potensi ekspor daerah, diseminasi informasi pasar, promosi ekspor, dan peningkatan sumberdaya manusia; 7) Meningkatkan kerjasama antar-lembaga yang difokuskan pada pengembangan kerjasama dengan lembaga promosi internasional dalam rangka pemanfaatan bantuan teknis, di samping kerjasama dengan instansi pemerintah dan asosiasi yang memiliki fungsi pengembangan ekspor; 8) Memberdayakan dan memberikan peluang yang besar kepada UKM melalui penguatan marketing point di berbagai daerah perbatasan pabean sebagai salah satu kegiatan dalam upaya memperluas jaringan pemasaran UKM dalam memasuki pasar global; 9) Mengembangkan pelatihan ekspor dan memperluas pendirian P3ED guna meningkatkan kapasitas, kualitas dan kuantitas sdm eksportir yang mampu mendeteksi pasar, mengantisipasi perubahan lingkungan strategis agar lebih mampu bersaing di pasar global; dan 10) Mengembangkan sarana dan prasarana serta fasilitas pengembangan ekspor yang memadai sejalan dengan perkembangan teknologi modern dalam dunia bisnis untuk mendukung dan memperlancar TUPOKSI dalam melakukan pelayanan yang lebih optimal pada dunia usaha.

Sesuai Propenas dan Repeta, maka sebagai penjabaran atas kebijakan teknis tersebut, pengembangan ekspor diarahkan pada program 1) Promosi ekspor, yang difokuskan pada upaya membuka peluang pasar dan meningkatkan pangsa ekspor, membuka jalur kerjasana dan hubungan langsung dengan pembeli luar ngeri, serta meningkatkan citra Indonesia dan produk Indonesia di pasar internasional; 2) Pengamatan pasar, ditujukan untuk membantu dunia usaha meningkatkan penerobosan pasar dengan melakukan kajian dan analisis peluang-peluang pasar yang terbuka bagi produk ekspor Indonesia dan strategi penerobosan pasarnya; 3) Pengembangan sistem dan jaringan serta pelayanan informasi ekspor, diorientasikan untuk mewujudkan pelayanan informasi ekspor yang akurat dan cepat kepada dunia usaha di dalam maupun luar negeri. Sementara pelayanan informasi lainnya bersifat off-line dengan menyediakan berbagai publikasi ekspor; 4) Pengembangan kelembagaan ekspor, diarahkan untuk membuka kembali kantor ITPC di berbagai target pasar untuk meningkatkan kegiatan promosi, terobosan pasar, market intelligence dan hubungan dagang pengusaha Indonesia dengan pembeli luar negeri. Pengembangan kelembagaan di dalam negeri adalah mendirikan Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah untuk mendorong percepatan peningkatan kualitas sdm di daerah sekaligus promosi produk potensial daerah; 5) Pembinaan dunia usaha, diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme pelaku ekspor, khususnya UKM, sehingga lebih mampu memenuhi permintaan pasar, menjalin hubungan dagang dengan importir, mengembangkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar, aspek promosi dan pemasaran; 6) Pendidikan dan pelatihan ekspor, diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan sumberdaya pelaku ekspor terutama UKM agar lebih mampu bersaing di pasar global; 7) Kerjasama antar-lembaga, dimaksudkan untuk mendukung BPEN dalam program promosi, terutama untuk membantu promosi produk-produk UKM dan program pengembangan sumberdaya manusia; 8) Peningkatan sdm, sarana dan prasarana, diarahkan untuk mengembangkan keterampilan sdm agar dapat mengemban tugas-tugas BPEN yang makin berkembang, pengadaan sarana dan prasarana kantor untuk mendukung pelayanan publik, pemantapan dan manajemen program serta monitoring dan evaluasi.

Koordinasi Promosi, Pariwisata dan Investasi dalam rangka Peningkatan Ekspor
Kegiatan promosi ekspor dengan berbagai produk yang dapat dipamerkan, baik di luar maupun dalam negeri, secara langsung dapat memberikan gambaran umum mengenai potensi Indonesia, khususnya yang terkait langsung dengan bidang ekonomi dan seni budaya. Ini menyadarkan kita bahwa betapa pun kecilnya usaha promosi yang dilakukan, selalu akan berdampak pada penilaian berbagai pihak tenang potensi yang ada, sekaligus memunculkan peluang pasar. Terbukanya peluang itu tidak saja di sektor perdagangan dan industri, melainkan juga sektor lain seperti pariwisata dan investasi.
Untuk mengoptimalkan peluang, maka berbagai instansi terkait seperti Kantor Menteri Negara Parsebud dan BKPM sering ikut terlibat dalam kegiatan promosi. Sejak dekade 80-an, keterpaduan kegiatan promosi yang tergabung dalam misi dagang ke luar negeri telah dilakukan dan dikenal dengan sebutan TTI (Trade Tourism and Investment).

Belum lama ini, keterpaduan program yang terkait dengan promosi industri dan perdagangan, kebudayaan, dan investasi, telah terjalin melalui solo exhibition di Sharjah, Uni Emirat Arab. Dalam event itu Depperindag cq BPEN menampilkan kembali peranan koordinasi antar-instansi. Selain memamerkan produk potensial, juga ditampilkan kesenian Indonesia serta seminar investasi untuk mendorong masuknya investasi asing ke dalam negeri.
Keberhasilan promosi ekspor dapat diukur dengan kontak dagang yang dihasilkan selama pameran, dan permintaan hubungan dagang atau tindak lanjut setelah berakhirnya promosi. Karena itu dalam memilih pameran yang akan diikuti, perlu dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut: a) Rekomendasi perwakilan Indonesia di luar negeri (KBRI, Atase Perdagangan, dan ITPC); b) Potensi dan daya saing produk ekspor; c) Analisis benefit cost ratio yang mengukur nilai kontak dagang yang akan dicapai, persebaran produk ekspor, dan potensi serta daya saing produk ekspor Indonesia.

Melalui hasil kajian yang komprehensif tersebut, Depperindag memprogramkan keikutsertaan Indonesia pada pameran dagang internasional di negara-negara target pasar, yang sebagian besar diprioritaskan pada upaya perluasan pasar ekspor (diversifikasi pasar ke negara-negara pasar nontradisional), dengan tetap memelihara pasar tradisional. Selain melalui partisipasi pada pemeran dagang internasional, upaya perluasan pasar juga dilakukan melalui pengiriman misi-misi dagang dan investasi. Melalui promosi yang proaktif, dunia usaha makin dapat menjalin dan mengembangkan hubungan dagang langsung dan berjangka panjang, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi pada peningkatan ekspor nonmigas.

Dalam kegiatan promosi, koordinasinya selain dilakukan antar-instansi juga dengan pihak swasta. BPEN bekerjasama dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan PT. Ram Sarwigo telah mengadakan Pekan Mode dan Seni 2003 di Jakarta, tepatnya pada bulan Juli. Tujuannya untuk menampung aspirasi dan memberikan motivasi serta mengangkat karya seni-budaya yang dihasilkan para perancang mode Indonesia.
Di samping itu, guna mereprentasikan ragam budaya tekstil tradisional Indonesia yang dapat dijadikan produk unggulan ekspor, dan sekaligus sebagai ajang untuk mempertemukan para pengusaha agar dapat membuka/memperluas jaringan pasar industri tekstil, garmen, aksesoris, tas, sepatu, perhiasan, dan lain-lain ke mancanegara, pada Oktober 2003 telah diadakan Bali Fashion Week ke-4 di Bali. Kegiatan ini merupakan hasil koordinasi dan upaya sinergi antara Depperindag cq BPEN dengan kalangan industri fashion, khususnya PT. Moda Bali Convex dan Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia.

Hasil-hasil yang Dicapai
Partisipasi Indonesia pada pameran dagang internasional rata-rata 35 kali pertahun, dengan mengikutsertakan rata-rata 700 pengusaha. Dalam tahun 2002 saja telah mengikuti 39 pameran internasional di 21 negara, mengikutsertakan sekitar 632 pengusaha yang mewakili dan memamerkan berbagai produk potensial seperti garmen, barang kerajinan, furnitur, barang keperluan rumahtangga, dekorasi dan asesoris, produk makanan, hasil perikanan, dan produk ekspor lainnya. Hasil transaksi yang diperoleh tercatat sebesar US$ 56,6 juta, di samping didapat berbagai inquiry (permintaan dagang) yang akan ditindaklanjuti dengan kerjasama bisnis.

Pengiriman misi dagang dilaksanakan ke berbagai negara tujuan ekspor, dengan mengikutsertakan dunia usaha dan asosiasi. Melalui misi dagang, para pengusaha Indonesia dapat menjalin dan menyepakati berbagai kontrak dagang dengan pembeli luar negeri. Demikian juga melalui pertemuan di tingkat pemerintahah, dapat disepakati berbagai kerjasama peningkatan hubungan perdagangan kedua belah pihak.
Penyelenggaraan Pameran Produk Ekspor (PPE) secara rutin dilaksanakan tiap tahun. Mulai 1986, PPE telah mejadi salah satu ajang kunjungan pembeli luar negeri dalam rangka pembinaan hubungan yang berkesinambungan dengan mitra dagang Indonesia, atau juga untuk mencari pasokan baru untuk memenuhi kebutuhannya. Secara umum, PPE dinilai cukup berhasil; pada 2002 misalnya, dicapai transaksi US$ 72,4 juta, meningkat 53,38 persen dibanding tahun 2001. Sedangkan pada PPE 2003, nilai transaksi dagang mencapai US$ 95,8 juta, meningkat 32,49 persen dari PPE 2002. Sementara kunjungan buyer mencapai 3.425 yang berasal dari 97 negara. Minat peserta dan kunjungan buyer yang relatif besar, makin mengukuhkan peran PPE sebagai sarana promosi terbesar di dalam negeri yang mampu menampilkan secara lengkap produk ekspor Indonesia yang berkualitas. Perlu dicatat bahwa sejak 2001 PPE mulai mengembangkan pelayanan dan kegiatan pameran secara Virtual Trade Fair yang dapat digunakan oleh seluruh peserta pameran serta buyer dari seluruh dunia, sehingga penyebaran informasi dan promosi lebih efektif dan efisien serta memungkinkan terjadinya transaksi secara on-line.

Untuk memperkuat dan pengintensifkan kegiatan promosi di target-target pasar, sejak tahun 2000 secara bertahap telah dibuka kembali Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC). Sampai dengan 2002 telah dibuka kembali 4 kantor ITPC, yaitu di Osaka-Jepang, Los Angeles-AS, Dubai-UAE, dan Budapest-Hongaria, yang telah berperan mendorong kunjungan buyer ke Indonesia. Di samping itu, ITPC menyelenggarakan pameran/promosi produk Indonesia di showroom ITPC dengan mengundang pengusaha setempat, menghubungkan pembeli dengan pengusaha Indoensia (trade inquiries), meningkatkan kontak dagang dan mendiseminasikan informasi peluang pasar luar negeri, baik melalui surat, e-mail, maupun secara langsung ke daerah-daerah.
Dalam mendorong pengembangan sdm dan promosi ekpor di daerah, telah diprogramkan untuk mendirikan 4 Kantor Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (P3ED), yang merupakan program kerjasama BPEN - JICA Jepang dengan 4 pemerintah propinsi, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Kalimantan Selatan. Tujuannya untuk mempercepat peningkatan keterampilan dunia usaha dan promosi ekpor di daerah yang bersangkutan.

Sedangkan untuk mendorong peningkatan ekspor daerah, telah dikembangkan Pameran Produk Ekspor Daerah (PPED), yang dimaksudkan untuk secara luas mempromosikan potensi ekspor daerah di tiga kota utama, yaitu Menado, Medan, dan Yogyakarta. Selain mampu berperan sebagai sarana pendorong pengusaha daerah dalam menggali dan mengembangkan berbagai produk potensial, PPED juga berhasil menarik kunjungan pembeli luar negeri.
Untuk lebih mendorong pengembangan ekspor di era otonomi daerah, sejak 2002 telah dijalin kesepakatan kerjasama antara BPEN dengan 3 pemerintah propinsi, (NTB, Riau, Sumatra Barat) di bidang identifikasi produk potensial daerah, promosi ekspor, pengembangan jaringan informasi pasar, dan pelatihan ekspor. Pada tahun-tahun sebelumnya telah pula dijalin dengan 5 pemerintah propinsi, yaitu Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, DIJ, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Dalam rangka peningkatan dan pengembangan kerjasama perdagangan bilateral, BPEN telah melakukan beberapa kesepakatan kerjasama dengan beberapa lembaga promosi perdagangan (TPO's) internasional di beberapa negara. Isinya mencakup peningkatan pertukaran informasi perdagangan ekspor-impor, termasuk yang menyangkut aturan-aturan serta investasi. Selain itu juga disepakati kerjasama promosi ekspor di masing-masing negara, termasuk pengiriman delegasi-delegasi dagang serta pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya kesepakatan itu, pemerintah Indonesia lebih terdukung dalam mengoptimalkan tiap peluang untuk mempromosikan dan memperluas pasar produk Indonesia ke berbagai negara.

Pembinaan dunia usaha, khususnya UKM, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan produk, model dan kemasan yang sesuai peermintaan pasar, promosi, pemasaran, mengantisipasi perkembangan ekonomi global, dan mengatasi hambatan ekspor. Dengan demikian diharapkan dapat lebih mampu bersaing di pasar global dan memanfaatkan peluang-peluang pasar secara optimal. Dalam tahun 2002, pembinaan dunia usaha antara lain berupa advokasi pasar untuk pengembangan pemasaran produk furnitur, kerajinan, tekstil dan produk tekstil, dan produk hasil perikanan. Pembinaan terpadu UKM ekspor di 4 daerah (Lampung, Kupang, Pontianak, Manado) dilakukan untuk meningkatkan peran UKM dalam perekonomian nasional, serta pembinaan ekonomi kerakyatan dalam rangka menumbuhkan wirausaha baru. Selain itu juga dilakukan melalui kegiatan Peta Pasar dan Daya Saing Komoditas Ekspor untuk membekali dunia usaha tentang berbagai informasi mengenai kondisi pasar global serta strategi penetrasi pemeliharaan pasar yang mampu memperbaiki kinerja ekspor Indonesia serta membangun daya saing komoditi ekspor nonmigas agar dapat meningkatkan bargaining position di pasar global.

Kegiatan lainnya berupa workshop atau rakor nasional pembinaan pondok pesantren dalam upaya pemberdayaan ekonomi kerakyatan pesantren. Melalui sarasehan nasional telah di-lounching "E-Pontren.Com" yaitu sistem jaringan informasi via internet pondok pesantren yang bekerjasama dengan Univesitas Pajajaran. Kehadirannya diharapkan makin mendukung kegiatan bisnis, baik sesama pesantren maupun dalam pengembangan ekspor produk-produk pondok pesantren.
Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) yang berada di bawah naungan BPEN, dalam tahun 2002 telah melaksanakan 117 angkatan pelatihan, diikuti 2.724 peserta. Materi utamanya tentang pemasaran ekspor, pengawasan dan pengendelian mutu, komunikasi niaga, dan manajemen pameran dagang.

Untuk mendorong dan meningkatkan motivasi dunia usaha dalam pengembangan produk-produk baru dan perluasan pasar ekspor, secara periodik telah diberikan penghargaan Primaniyarta kepada eksportir berprestasi. Diberikan pula penghargaan Indonesia Goods Design Selection untuk meningkatkan kreativitas pengusaha, khususnya produsen dalam negeri dalam mengembangkan desain produk.
Guna mendorong daya saing di pasar internasional, pada 2002 telah diadakan workshop dalam rangka pengembangan brand image, sebagai ajang tukar pikiran yang melibatkan para pakar dan praktisi bagi pengembangan merek dagang produk Indonesia.

Dalam pada itu, upaya mendorong arus perdaganan di daerah-daerah strategis dan/atau perbatasan, dilakukan dengan mendirikan marketing point. Di Batam, misalnya, telah dibentuk "Indonesian Emporium Batam Sand" yang mempebesar peluang dunia usaha, khususnya UKM, untuk mengembangkan pasar ekspor melalui kontak lansung dengan pembeli mancanegara. Tahun 2002 telah diadakan sosialisasi program pengembangan marketing point di Entikong, Kalbar yang dimaksudkan untuk menyampaikan informasi pentingnya keberadaan maketing point tersebut dengan mengaktifkan kegiatan promosi dan pemasaran produk-produk Kalimantan Barat dan daerah lainnya ke pasar Asean melalui pelabuhan laut Kuching, Serawak.

Agar dunia usaha dan calon pembeli luar negeri dapat mengakses informasi ekspor secara cepat, dikembangkan sistem jaringan informasi melalui internet. Untuk maksud yang sama BPEN menerbitkan beberapa publikasi ekspor seperti Direktori Ekspor, Direktori importir asing, News letter, Warta Ekspor, serta perpustakaan ekspor.
Sedangkan penyelenggaraan Forum Ekspor dirancang sebagai media komunikasi dan diskusi langsung tentang upaya-upaya peningkatan ekspor dan wahana penyampaian informasi peluang pasar luar negeri, dilakukan oleh Atase Perindustrian dan Perdagangan, Kepala ITPC, serta tenaga ahli/konsultan dan lembaga promosi. Forum Ekspor ke-12, tahun 2002, diselenggarakan sebagai bagian integral dari PPE ke-17 yang berlangsung Oktober 2002 diikuti 600 pengusaha Indonesia, menampilkan 48 pembicara yang terdiri atas 24 atase perindustrian dan perdagangan, 3 kepala ITPC, seorang konsul dagang, seorang Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi, dan 19 Kepala bidang Ekonomi (KBRI/Konjen).

Sedangkan dalam PPE ke-13 (2003) diadakan 3 kegiatan lain yang merupakan satu rangkaian, yaitu forum ekspor, klinik/konsultasi bisnis, serta gathering night dan fashion show. Forum ekspor membahas topik utama dampak penggabungan sepuluh negara Eropa Timur ke Uni Eropa (UE 25) terhadap perdagangan Indonesia. Pada kesempatan yang sama diberikan penghargaan dan pengakuan atas inovasi, kreativitas penciptaan produk yang mempunyai disain yang baik dan berkualitas tinggi melalui Indonesian Good Design Selection. Adapun kegiatan klinik bisnis diadakan dengan tujuan agar para pengusaha dapat berdiskusi secara langsung dengan para pejabat Indonesia di luar negeri untuk membahas dan memperoleh informasi rinci mengenai strategi yang tepat supaya produk tertentu dapat memasuki pasar luar negeri.

Upaya membantu dunia usaha dalam menjalin hubungan dengan calon pembeli pun terus ditingkatkan. Deseminasi permintaan hubungan dagang dari calon pembeli luar negeri kepada pengusaha nasional akan terus didorong melalui surat-menyurat, e-mail, dan homepage, serta melalui publikasi di media massa.
Forum Strategi Pengembangan Ekspor dalam menghadapi AFTA telah dilangsungkan di Bangkok, diikuti oleh Atperindag dan kepala bidang ekonomi KBRI di 13 negara Asia Timur, bertujuan mengkaji strategi kebijakan negara anggota Asean yang kontribusinya paling dominan bagi peningkatan ekspor. Dari forum ini direkomendasikan tiga kebijakan strategis untuk dapat memanfaatkan peluang yang terbuka, yaitu meningkatkan cakupan promosi ekspor hingga barang jasa, mengembangkan fasilitas ekspor dan diplomasi perdagangan, dan mendorong pengembangan industri dan iklim usaha yang di dalamnya tercakup kampanye kandungan lokal.

Sedangkan untuk memperluas akses pasar ke negara-negara Eropa Timur, Afrika, dan Timur Tengah, pada bulan September 2003 telah dilaksanakan Forum Penyusunan Strategi Penetrasi Pasar Nontradisional dengan memanfaatkan Budapest dan Dubai sebagai entry point. Ini dimaksudkan untuk menampung masukan dari para perwakilan RI di tiga kawasan itu tentang peluang pasar dan strategi yang sebaiknya ditempuh guna meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.
Terakhir, BPEN telah melaksanakan Forum Konsultasi Teknis (FKT) pengembangan ekspor antara BPEN dengan Dinas Perindag propinsi seluruh Indonsia di Denpasar dan Surakarta, yang ditujukan untuk dapat menjalin kerjasama dan sinergi program pengembangan ekspor antara pusat dan daerah. BPEN dan Dinas Perindag propinsi seluruh Indonesia juga menyepakati program promosi bersama pada pameran berskala besar, yaitu di California Gift Show (Juli 2003), Thessaloniki-Yunani (September 2003), dan Tokyo International Gift Show (Oktober 2003).***

CV:
Terlahir di Singapura, 15 November 1963, Diah Maulida adalah sarjana pertanian jurusan Teknologi Pangan IPB, yang kemudian meraih gelar MA Ekonomi Pertanian di Stanford University USA. Jabatan yang pernah diemban antara lain Atase Perdagangan di KBRI Washington DC, Direktur Kerjasaama Regional, Direktur Industri Kimia Hilir, Kapuslitbang Iklim Usaha Industri dan Perdagangan BPPIP, staf ahli Menperindag, dan saat tulisan ini dibuat sedang menjabat Kepala BPEN Depperindag.




    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)